Catatan Harian Seorang Arsiparis

Januari 4, 2009

Dari Agenda Internasional 2009

Filed under: Uncategorized — arsiparis @ 11:33 pm

Di harian International Herald Tribune (2/1), Mikhail Gorbachev menulis artikel berjudul “A New International Agenda”.
Ya, ia memandang perlu adanya penataan dalam sistem internasional, hingga ada sistem baru yang lebih responsif terhadap pelbagai persoalan yang dihadapi bangsa-bangsa dewasa ini.
Mantan presiden terakhir Uni Soviet itu menyoroti permasalahan yang ditimbulkan oleh krisis ekonomi. Ia punya keyakinan, dalam bulan-bulan yang akan datang dunia dan politik dunia akan sungguh-sungguh diuji, yaitu
ketika jalan untuk keluar dari krisis akan merupakan proses yang sulit dan menyakitkan.
Yang terlihat sekarang ini adalah dunia memiliki pemimpin yang gagal menanggapi ancaman lama maupun baru secara efektif. Kegagalan ini terutama karena pemimpin dunia tidak mau dan tidak mampu secara
benar mengevaluasi situasi setelah Perang Dingin berakhir dan secara bersama-sama menyusun peta baru.
Barat seolah berpesta dengan kemenangan (mengikuti The Winner’s Complex). padahal, yang terjadi sebenarnya bukan kemenangan satu pihak dan kekalahan di pihak lain. Yang benar, menurut Gorbachev, berakhirnya
Perang Dingin adalah satu prestasi bersama, disertai dengan tantangan (baru) bersama, keduanya menyerukan adanya perubahan besar. Ternyata, pemikiran itu tak mampu menjawab krisis yang meletup di tahun 2008.
Kesimpulan sementara yang bisa ditarik adalah tantangan global terlalu besar untuk dihadapi hanya oleh satu atau dua pusat kuasa, tetapi perlu kekuatan lain, seperti China, India dan Brasil.
Lalu bagaimana dengan politik dan keamanan? Selama ini kita punya Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa-Bangsa. Namun, sejak Amerika Serikat secara sepihak meluncurkan serbuan ke Irak, Maret 2003, dan sebelumnya
juga ketika kuasa-kuasa besar pemegang veto sering menggunakan hak eksklusif itu untuk membela kepentingan sekutunya, kita sudah merasa bahwa sistem keamanan kolektif yang digagas menjelang berakhirnya PD II tersebut, dan dipertahankan
hingga hari ini, sudah tak mampu menjawab tantangan zaman.
Ketika jet Israel masih terus memborbardir Gaza hari-hari ini, kita tidak melihat sense of emergency di kalangan pemangku keamanan kolektif dunia. Apakah itu pertanda semua telah menyadari bahwa sistem yang ada
dewasa ini sudah tak mampu lagi merespons persoalan yang ada?
Dalam kaitan ini, agenda Internasional 2009 yang relevan adalah kembali meninjau tatatanan keamanan dunia selain tatanan ekonomi yang ada sekarang ini.

Sumber : Kompas, 3 Januari 2009

Tujuh Agenda dan Aksinya

Filed under: Uncategorized — arsiparis @ 11:31 pm

Pemerintah mengumumkan tujuh agenda yang akan diambil untuk mengantisipasi ataupun mengatasi persoalan ekonomi yang bakal muncul tahun ini.
Tujuh agenda itu adalah mengatasi risiko pengangguran baru akibat imbas krisis keuangan global, mengelola inflasi pada batas tertentu, menjaga pergerakan sektor riil, mempertahankan daya beli masyarakat, melindiungi kelompok
yang berada di garis kemiskinan, memelihara kecukupan pangan dan energi, serta memelihara angka pertumbuhan ekonomi yang pantas, setidaknya mencapai 4,5 persen.
Jika tujuh agenda itu terimplementasikan dengan baik dan benar, serta momentumnya tepat, sebagian masalah akan teratasi. Soalnya, antara agenda dan aksi acapkali ada kesenjangan lebar. Sementara waktu bergulir dan
masalah global terus menggelinding, maka implementasi agenda harus menjadi prioritas utama.
Tujuh agenda itu sendiri tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Persoalan kita memang berputar di sana. Pengangguran, daya beli, kemiskinan, inflasi, pangan dan energi, gerak sektor riil, dan pertumbuhan ekonomi bertali-temali
dan memerlukan penatalaksanaan yang baik dan sesegera mungkin.
Pemutusan hubungan kerja akibat menurunnya permintaan produksi di sektor riil sudah dirasakan oleh ribuan pekerja. Berbagai perkiraan menunjukkan pemutusan hubungan kerja tahun ini bakal terus berlanjut akibat
penurunan utilitas kapasitas produksi industri.
Pada sisi lain, pekerja sektor pertanian, perikanan, perkebunan, dan tambang mengalami hal serupa. Selai permintaan, harga komoditas pun menurun drastis, melemahkan nilai tukar pekerja.
Dalam konteks mengatasi dan mengantisipasi berbagai persoalan itulah diperlukan kebijakan untuk melindungi industri, produksi, berikut pasar dalam negeri dari serbuan produk impor ilegal. Insentif fiskal untuk menggerakkan sektor
riil dan mendongkrak daya beli, sementara belanja pemerintah sangat diharapkan mengucur dalam porsi yang lebih besar untuk pembangunan infrastruktur supaya menciptakan lapangan kerja. Apalgi jika investasi masih bisa dipertahankan,
rasanya pertumbuhan ekonomi yang diperkirakan pemerintah 4,5 persen bisa dicapai.
Syarat lain dan paling penting adalah harmonisasi orkestrasi kabinet. Setiap menteri mengerjakan tugasnya dengan kesungguhan hati di tengah hiruk pikuk masa-masa pemilihan umum. Tidak boleh ada menteri
menonjol sendiri, apalagi merasa supermenteri. Sebaliknya tidak boleh ada yang loyo.
Para gubernur, bupati, dan wali kota hendaknya berinisiatif mengambil peran untuk mempercepat proyek-proyek sesuai dengan jadwal agar tidak terganggu persoalan administratif sepele, atau urusan yang sengaja
diciptakan demi kepentingan sosial.

Sumber: Kompas, 3 Januari 2009

Desember 31, 2008

Masih Dunia yang Belum Aman

Filed under: tajuk rencana — arsiparis @ 3:41 am

Sebagaimana disinggung dalam refleksi Natal yang baru lalu, kita tampaknya akan meninggalkan tahun 2008 masih sebagai tahun yang penuh gejolak.
Memang bagi sebagian besar kalangan warga dunia, tahun 2008 akan diingat sebagai tahun kesulitan ekonomi. Namun, tahun 2008 juga masih ditandai konflik di berbagai tempat di dunia.
Yang menambah keprihatinan, konflik paling mencolok justru di kawasan Timur tengah, kawasan tempat munculnya amanat-amanat damai bagi bangsa-bangsa di bumi.
Hari-hari ini dunia sedang mengecam keras serangan Israel ke Jalur Gaza. Serangan dengan jet tempur canggih sejak Sabtu lalu hingga awal pekan ini sudah menewaskan lebih dari 300 warga Palestina.
Korban diperkirakan akan terus bertambah jika Israel jadi melancarkan operasi darat untu meredam serangan roket kelompok Hamas ke wilayah selatan negaranya.
Kita mengecam keras serangan brutal Israel ini. Pada sisi lain kita juga amat prihatin, mengapa setelah ada upaya demi upaya, perdamaian yang dicita-citaakan bukan saja tidak kunjung berwujud, tetapi sebaliknya,
malah tampak semakin jauh.
Lepas dari Timteng, perang terjadi di Afghanistan, ajang yang tak kunjung padam meski AS dan sekutu Baratnya telah mengerahkan berbagai persenjataan cangih sejak melancarkan perang melawan teror menyusul
serangan 11 September 2001.
Sementara Irak, yang diserbu dan kemudian diduduki AS Maret 2003, hingga sekarang masih terus bergolak. Bom masih meledak di pusat-pusat keramaian di Baghdad dan kota-kota
Irak lainnya.Dengan datangnya pemerintahan baru di AS, juga komitmen untuk mundur dari Irak, kestabilan diharapkan bisa hadir di Irak.
Dalam tahun 2008 juga kita saksikan ketegangan di sejumlah negara, seperti kasus Thailand-Kamboja yang dipicu oleh klaim tumpang tindih atas wilayah perbatasan di sekitar kuil Preah Vihear. Sementara di Afrika
ada konflik perbatasan antara Djibouti dan Eritrea. Juga konflik di Ossetia Selatan, yang bermaksud memisahkan diri dari Georgia dan memicu keterlibatan Rusia yang lalu mengirimkan tank ke wilayah ini Agustus lalu.
Semua itu tentu masih menjadi kekhawatiran, dunia masih jauh dari perdamaian. Meskipun berdasarkan pengalaman tahun-tahun terdahulu kita juga tahu dunia yang terbebas dari knflik belum pernah tejadi,
kini kekhawatiran justru semakin besar.
Krisisi perekonomian yang tak segra bisa ditanggulangi bisa menjadi faktor negatif yang akan memperbesar potensi konflik di tahun yang akan datang. Pelajaran tahun 2008 perlu kita simak.

Sumber:kompas, 31 Desember 2008

Kinerja untuk Rakyat

Filed under: tajuk rencana — arsiparis @ 3:36 am

Berakhirnya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/12), mencatat penurunan indeks sepanjang 2008 sekitar 50 persen dari posisi tahun 2007.
Kapitalisasi pasar, nilai semua saham yang tercatat di bursa, juga terpangkas hampir sebesar itu. Aset publik berupa saham yang ada dan diperdagangkan di bursa saham melorot. Demikian juga kinerja kurs rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat terdepresiasi sekitar 13 persen dalam setahun.
Dua indikator itu hanyalah sebagian dari berbagai alat ukur kinerja ekonomi, khususnya di sektor keuangan. Keterpurukan indikator sektor keuangan memang bukan hanya dialami Indonesia. Indeks harga saham di bursa
Rusia, misalnya, bahkan terpangkas 70 persen. Amerika Serikat yang selama ini menjadi “kiblat” pasar keuangan dan perekonomian dunia malah menderita sakit paling parah. pasar keuangannya bahkan diwarnai tipu muslihat
bernilai puluhan miliar dollar AS.
Belum lagi pelemahan yang terjadi pada berbagai indikator kinerja sektor riil. Penurunan produksi juga sudah terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja dan
penambahan jumlah penganggur. Pada sisi lain lagi, kesulitan hidup masyarakat yang mesti antre gas, minyak tanah, dengan harga yangmelonjak berlipat-lipat, juga merupakan catatan tersendiri.
Secara pasti satu per satu alat ukur kinerja ekonomi membenarkan, dan seharusnya menyadarkan semua pihak, bahwa kita memang memasuki masa sulit. Lebih jauh, kita menyongsong tahun 2009 dengan ketidakpastian,
kapan krisis perekonomian global yang menyeret pula Indonesia ini menyentuh dasarnya untuk bangkit dan lebih bergairah kembali.
Karena itulah, pemerintah sejumlah negara yang mengalami masa-masa sulit itu berupaya bekerja keras dan habis-habisan untuk menyelematkan perekonomiannya agar tidak menambah jumlah orang miskin.
Hal itu tentu berlaku pula bagi Pemerintah Indonesia. Kerja keras, habis-habisan, fokus pada langkah konkret untuk memulihkan kinerja ekonomi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama bagi
mereka yang semakin terpuruk kehidupannya akibat krisis, harus ditempatkan pada prioritas paling atas.
Kita sekali lagi menekankan hali ini karena pada tahun ketidakpastian 2009 itu juga bertepatan dengan penyelenggaraan agenda politik nasional, yakni pemilihan umum. Kita mengingatkan pula bahwa agenda politik praktik boleh
lima tahunan, tetapi agenda ekonomi haruslah tetap dalam horizon jangka panjang. Tak kalah penting, agenda itu demi kepentingan seluruh rakyat, bukan golongan saja, apalagi pribadi-pribadi. Jangan sampai pemerintahan
SBY-JK yang kabinetnya beranggotakan sejumlah pemimpin partai tidak lagi fokus pada kehidupan ekonomi masyarakat.
Kita masuki tahun 2009 dengan harapan, kerja nan cerdik, untuk sebuah kinerja bagi rakyat.

Sumber:Kompas, 31 Desember 2008

Desember 30, 2008

Damai Makin Jauh di Palestina

Filed under: tajuk rencana — arsiparis @ 12:20 pm

Serangan Israel ke wilayah Jalur Gaza dilancarkan selama akhir pekan kemarin, dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 300 warga Palestina.
Serangan itu menurut Israel dilancarkan karena Hamas yang menguasai Gaza terus menembakkan roket ke wilayah Israel. Meski telah menelan banyak korban,
serangan yang menggunakan pesawat tempur itu kemungkinan besar belum akan diakhiri. Pemerintah Israel telah memanggil pasukan
cadangan yang diduga untuk persiapan melakukan operasi darat.
Sejumlah kalangan menilai serangan Israel tampaknya untuk menegaskan kepada pihak lawan bahwa ia bukan negara lemah
seperti dikesankan saat kedodoran menghadapi serangan Hezbollah tahun 2006. Kali ini serangan dilakukan dengan masif. Selain banyak korban yang jatuh,
serangan menimbulkan kekalutan luar biasa. Banyak warga Gaza yang berniat mengungsi ke wilayah Mesir melalui perbatasan Rafah. Namun, pihak Mesir tegas
menutup perbatasan tersebut.
Negara-negara Arab meluapkan kemarahan terhadap serangan brutal Israel. Sebagian dari mereka juga marah terhadap Mesiryang tak
memberikan kesempatan kepada warga Palestina yang ingin mengungsi. Padahal, kemampuan Gaza, seperti dalam hal pengobatan, sudah
amat merosot setelah 18 bulan terkena sanksi Israel.
Semua itu menimbulkan kecemasan, wilayah Timur Tengah akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan baru. Pihak Israel menyebutkan,
serangan tidak dimaksudkan menduduki Gaza, yang sudah ia tinggalkan secara sepihak tahun 2005, tetapi untuk memulihkan kehidupan normal
bagi penduduk di wilayah selatan negara yang terkena serangan roket Hamas.
Namun, pihak Hamas menyebut Israel-lah yang memulai “perang”, dan bertekad akan membalas dengan serangan hingga “jauh ke dalam
wilayah negara zionis dengan menggunakan semua cara, termasuk serangan bunuh diri”. Sementara itu, di Lebanon, pemimpin Hezbollah Sheik Hassan Nasrallah menyatakan
mendukung Hamas dan mempersiapkan para pejuangnya.
Dukungan bagi Hamas juga muncul dari Iran dan Suriah. Kedua negara ini dianggap berseberangan dengan Arab Saudi,
Jordani dan Mesir, yang dinilai menjalin kesepakatan menentang Hamas. Kini, gencatan senjata selama enam bulan antara Israel dan Hamas
yang diperantarai Mesir sudah berakhir 10 hari yang lalu. Namun, situasi sudah mulai memburuk November lalu.
Kita sungguh prihatin dengan kondisi di Palestina. Jangankan ada negara merdeka, tahun 2008 pun berakhir dengan Palestina
yang masih terus terbelah dan berdarah oleh gempuran Israel.

Sumber:Kompas, 30 Desember 2008

Tulisan yang Lebih Tua »

Tema: Banana Smoothie. Blog pada WordPress.com.

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.