Sebagaimana disinggung dalam refleksi Natal yang baru lalu, kita tampaknya akan meninggalkan tahun 2008 masih sebagai tahun yang penuh gejolak.
Memang bagi sebagian besar kalangan warga dunia, tahun 2008 akan diingat sebagai tahun kesulitan ekonomi. Namun, tahun 2008 juga masih ditandai konflik di berbagai tempat di dunia.
Yang menambah keprihatinan, konflik paling mencolok justru di kawasan Timur tengah, kawasan tempat munculnya amanat-amanat damai bagi bangsa-bangsa di bumi.
Hari-hari ini dunia sedang mengecam keras serangan Israel ke Jalur Gaza. Serangan dengan jet tempur canggih sejak Sabtu lalu hingga awal pekan ini sudah menewaskan lebih dari 300 warga Palestina.
Korban diperkirakan akan terus bertambah jika Israel jadi melancarkan operasi darat untu meredam serangan roket kelompok Hamas ke wilayah selatan negaranya.
Kita mengecam keras serangan brutal Israel ini. Pada sisi lain kita juga amat prihatin, mengapa setelah ada upaya demi upaya, perdamaian yang dicita-citaakan bukan saja tidak kunjung berwujud, tetapi sebaliknya,
malah tampak semakin jauh.
Lepas dari Timteng, perang terjadi di Afghanistan, ajang yang tak kunjung padam meski AS dan sekutu Baratnya telah mengerahkan berbagai persenjataan cangih sejak melancarkan perang melawan teror menyusul
serangan 11 September 2001.
Sementara Irak, yang diserbu dan kemudian diduduki AS Maret 2003, hingga sekarang masih terus bergolak. Bom masih meledak di pusat-pusat keramaian di Baghdad dan kota-kota
Irak lainnya.Dengan datangnya pemerintahan baru di AS, juga komitmen untuk mundur dari Irak, kestabilan diharapkan bisa hadir di Irak.
Dalam tahun 2008 juga kita saksikan ketegangan di sejumlah negara, seperti kasus Thailand-Kamboja yang dipicu oleh klaim tumpang tindih atas wilayah perbatasan di sekitar kuil Preah Vihear. Sementara di Afrika
ada konflik perbatasan antara Djibouti dan Eritrea. Juga konflik di Ossetia Selatan, yang bermaksud memisahkan diri dari Georgia dan memicu keterlibatan Rusia yang lalu mengirimkan tank ke wilayah ini Agustus lalu.
Semua itu tentu masih menjadi kekhawatiran, dunia masih jauh dari perdamaian. Meskipun berdasarkan pengalaman tahun-tahun terdahulu kita juga tahu dunia yang terbebas dari knflik belum pernah tejadi,
kini kekhawatiran justru semakin besar.
Krisisi perekonomian yang tak segra bisa ditanggulangi bisa menjadi faktor negatif yang akan memperbesar potensi konflik di tahun yang akan datang. Pelajaran tahun 2008 perlu kita simak.
Sumber:kompas, 31 Desember 2008