Catatan Harian Seorang Arsiparis

Desember 31, 2008

Masih Dunia yang Belum Aman

Diarsipkan di bawah: tajuk rencana — arsiparis @ 3:41 am

Sebagaimana disinggung dalam refleksi Natal yang baru lalu, kita tampaknya akan meninggalkan tahun 2008 masih sebagai tahun yang penuh gejolak.
Memang bagi sebagian besar kalangan warga dunia, tahun 2008 akan diingat sebagai tahun kesulitan ekonomi. Namun, tahun 2008 juga masih ditandai konflik di berbagai tempat di dunia.
Yang menambah keprihatinan, konflik paling mencolok justru di kawasan Timur tengah, kawasan tempat munculnya amanat-amanat damai bagi bangsa-bangsa di bumi.
Hari-hari ini dunia sedang mengecam keras serangan Israel ke Jalur Gaza. Serangan dengan jet tempur canggih sejak Sabtu lalu hingga awal pekan ini sudah menewaskan lebih dari 300 warga Palestina.
Korban diperkirakan akan terus bertambah jika Israel jadi melancarkan operasi darat untu meredam serangan roket kelompok Hamas ke wilayah selatan negaranya.
Kita mengecam keras serangan brutal Israel ini. Pada sisi lain kita juga amat prihatin, mengapa setelah ada upaya demi upaya, perdamaian yang dicita-citaakan bukan saja tidak kunjung berwujud, tetapi sebaliknya,
malah tampak semakin jauh.
Lepas dari Timteng, perang terjadi di Afghanistan, ajang yang tak kunjung padam meski AS dan sekutu Baratnya telah mengerahkan berbagai persenjataan cangih sejak melancarkan perang melawan teror menyusul
serangan 11 September 2001.
Sementara Irak, yang diserbu dan kemudian diduduki AS Maret 2003, hingga sekarang masih terus bergolak. Bom masih meledak di pusat-pusat keramaian di Baghdad dan kota-kota
Irak lainnya.Dengan datangnya pemerintahan baru di AS, juga komitmen untuk mundur dari Irak, kestabilan diharapkan bisa hadir di Irak.
Dalam tahun 2008 juga kita saksikan ketegangan di sejumlah negara, seperti kasus Thailand-Kamboja yang dipicu oleh klaim tumpang tindih atas wilayah perbatasan di sekitar kuil Preah Vihear. Sementara di Afrika
ada konflik perbatasan antara Djibouti dan Eritrea. Juga konflik di Ossetia Selatan, yang bermaksud memisahkan diri dari Georgia dan memicu keterlibatan Rusia yang lalu mengirimkan tank ke wilayah ini Agustus lalu.
Semua itu tentu masih menjadi kekhawatiran, dunia masih jauh dari perdamaian. Meskipun berdasarkan pengalaman tahun-tahun terdahulu kita juga tahu dunia yang terbebas dari knflik belum pernah tejadi,
kini kekhawatiran justru semakin besar.
Krisisi perekonomian yang tak segra bisa ditanggulangi bisa menjadi faktor negatif yang akan memperbesar potensi konflik di tahun yang akan datang. Pelajaran tahun 2008 perlu kita simak.

Sumber:kompas, 31 Desember 2008

Kinerja untuk Rakyat

Diarsipkan di bawah: tajuk rencana — arsiparis @ 3:36 am

Berakhirnya perdagangan saham di Bursa Efek Indonesia, Selasa (30/12), mencatat penurunan indeks sepanjang 2008 sekitar 50 persen dari posisi tahun 2007.
Kapitalisasi pasar, nilai semua saham yang tercatat di bursa, juga terpangkas hampir sebesar itu. Aset publik berupa saham yang ada dan diperdagangkan di bursa saham melorot. Demikian juga kinerja kurs rupiah
terhadap dollar Amerika Serikat terdepresiasi sekitar 13 persen dalam setahun.
Dua indikator itu hanyalah sebagian dari berbagai alat ukur kinerja ekonomi, khususnya di sektor keuangan. Keterpurukan indikator sektor keuangan memang bukan hanya dialami Indonesia. Indeks harga saham di bursa
Rusia, misalnya, bahkan terpangkas 70 persen. Amerika Serikat yang selama ini menjadi “kiblat” pasar keuangan dan perekonomian dunia malah menderita sakit paling parah. pasar keuangannya bahkan diwarnai tipu muslihat
bernilai puluhan miliar dollar AS.
Belum lagi pelemahan yang terjadi pada berbagai indikator kinerja sektor riil. Penurunan produksi juga sudah terjadi pada perusahaan-perusahaan di Indonesia, menyebabkan berkurangnya kesempatan kerja dan
penambahan jumlah penganggur. Pada sisi lain lagi, kesulitan hidup masyarakat yang mesti antre gas, minyak tanah, dengan harga yangmelonjak berlipat-lipat, juga merupakan catatan tersendiri.
Secara pasti satu per satu alat ukur kinerja ekonomi membenarkan, dan seharusnya menyadarkan semua pihak, bahwa kita memang memasuki masa sulit. Lebih jauh, kita menyongsong tahun 2009 dengan ketidakpastian,
kapan krisis perekonomian global yang menyeret pula Indonesia ini menyentuh dasarnya untuk bangkit dan lebih bergairah kembali.
Karena itulah, pemerintah sejumlah negara yang mengalami masa-masa sulit itu berupaya bekerja keras dan habis-habisan untuk menyelematkan perekonomiannya agar tidak menambah jumlah orang miskin.
Hal itu tentu berlaku pula bagi Pemerintah Indonesia. Kerja keras, habis-habisan, fokus pada langkah konkret untuk memulihkan kinerja ekonomi yang bermuara pada peningkatan kesejahteraan rakyat, terutama bagi
mereka yang semakin terpuruk kehidupannya akibat krisis, harus ditempatkan pada prioritas paling atas.
Kita sekali lagi menekankan hali ini karena pada tahun ketidakpastian 2009 itu juga bertepatan dengan penyelenggaraan agenda politik nasional, yakni pemilihan umum. Kita mengingatkan pula bahwa agenda politik praktik boleh
lima tahunan, tetapi agenda ekonomi haruslah tetap dalam horizon jangka panjang. Tak kalah penting, agenda itu demi kepentingan seluruh rakyat, bukan golongan saja, apalagi pribadi-pribadi. Jangan sampai pemerintahan
SBY-JK yang kabinetnya beranggotakan sejumlah pemimpin partai tidak lagi fokus pada kehidupan ekonomi masyarakat.
Kita masuki tahun 2009 dengan harapan, kerja nan cerdik, untuk sebuah kinerja bagi rakyat.

Sumber:Kompas, 31 Desember 2008

Desember 30, 2008

Damai Makin Jauh di Palestina

Diarsipkan di bawah: tajuk rencana — arsiparis @ 12:20 pm

Serangan Israel ke wilayah Jalur Gaza dilancarkan selama akhir pekan kemarin, dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 300 warga Palestina.
Serangan itu menurut Israel dilancarkan karena Hamas yang menguasai Gaza terus menembakkan roket ke wilayah Israel. Meski telah menelan banyak korban,
serangan yang menggunakan pesawat tempur itu kemungkinan besar belum akan diakhiri. Pemerintah Israel telah memanggil pasukan
cadangan yang diduga untuk persiapan melakukan operasi darat.
Sejumlah kalangan menilai serangan Israel tampaknya untuk menegaskan kepada pihak lawan bahwa ia bukan negara lemah
seperti dikesankan saat kedodoran menghadapi serangan Hezbollah tahun 2006. Kali ini serangan dilakukan dengan masif. Selain banyak korban yang jatuh,
serangan menimbulkan kekalutan luar biasa. Banyak warga Gaza yang berniat mengungsi ke wilayah Mesir melalui perbatasan Rafah. Namun, pihak Mesir tegas
menutup perbatasan tersebut.
Negara-negara Arab meluapkan kemarahan terhadap serangan brutal Israel. Sebagian dari mereka juga marah terhadap Mesiryang tak
memberikan kesempatan kepada warga Palestina yang ingin mengungsi. Padahal, kemampuan Gaza, seperti dalam hal pengobatan, sudah
amat merosot setelah 18 bulan terkena sanksi Israel.
Semua itu menimbulkan kecemasan, wilayah Timur Tengah akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan baru. Pihak Israel menyebutkan,
serangan tidak dimaksudkan menduduki Gaza, yang sudah ia tinggalkan secara sepihak tahun 2005, tetapi untuk memulihkan kehidupan normal
bagi penduduk di wilayah selatan negara yang terkena serangan roket Hamas.
Namun, pihak Hamas menyebut Israel-lah yang memulai “perang”, dan bertekad akan membalas dengan serangan hingga “jauh ke dalam
wilayah negara zionis dengan menggunakan semua cara, termasuk serangan bunuh diri”. Sementara itu, di Lebanon, pemimpin Hezbollah Sheik Hassan Nasrallah menyatakan
mendukung Hamas dan mempersiapkan para pejuangnya.
Dukungan bagi Hamas juga muncul dari Iran dan Suriah. Kedua negara ini dianggap berseberangan dengan Arab Saudi,
Jordani dan Mesir, yang dinilai menjalin kesepakatan menentang Hamas. Kini, gencatan senjata selama enam bulan antara Israel dan Hamas
yang diperantarai Mesir sudah berakhir 10 hari yang lalu. Namun, situasi sudah mulai memburuk November lalu.
Kita sungguh prihatin dengan kondisi di Palestina. Jangankan ada negara merdeka, tahun 2008 pun berakhir dengan Palestina
yang masih terus terbelah dan berdarah oleh gempuran Israel.

Sumber:Kompas, 30 Desember 2008

Isyarat dari Tahun 2008

Diarsipkan di bawah: tajuk rencana — arsiparis @ 12:19 pm

Kejadian dan perubahan apakah yang mencolok tahun 2008?Semakin nyatanya perubahan iklim. Tercatat banjir yang semakin liar dan ganas. Juga bencana tanah longsorĀ  dan gelombang laut. Bukan saja mengakibatkan
kerusakan alam dan harta benda, tetapi juga korban jiwa dan penduduk terusir dri tempat tinggalnya. Karena berbagai hal, perubahan iklim akibat pemanasan global, dan bencana alam bagi masyarakat Indonesia, masih kuat dan efektif
faktor-faktor pendadakannya. Pemahaman, perencanaan dan pencegahan masih harus kita buat lebih efektif.
Tahun 2008 disibukkan pula oleh persiapan pemilihan umum tingkat nasional tahun 2009. Sementara itu, pada tingkat provinsi, kabupaten dan kota, pemilihan berlangsung sepanjang tahun. Tahun 2008 terhitung ada 139 kali
pemilu lokal di seluruh Indonesia. Secara iseng, tetapi serius, kita semakin sering berolok, kalau pemilu begitu sering disertai dengan segala macam implikasinya, kapan kita bekerja?Demokrasi memang mahal, maka haruslah kita pandai-pandai
membangun dan merawatnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh warga.
Meninggalkan tahun 2008 berarti melangkah masuk ke tahun pelaksanaan pemilu nasional, dimulai dengan pemilu anggota legislatif dan dilanjutkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Bisa kita bayangkan kesibukan dan
ketegangannya silih berganti. Masuk akallah semua itu karena demokrasi yang dilaksanakan lewat pemilu disertai kompetisi. Kompetisi antar partai yang notabene 40 lebih jumlahnya dan puncaknya kompetisi antara para capres dan cawapres.
Semua kegiatan itu memerlukan persiapan serta pemahaman dan kesadaran yang semakin bertanggung jawab perihal prinsip, semangat serta kebajikan demokrasi. Komisi Pemilihan Umum berposisi sebagai penyelenggara,
masuk akal jika kesiapan kerja yang efektif dan efisien dari badan itu memperoleh sorotan kritis-konstruktif di samping dukungan dan partisipasi.
Seperti petir di siang bolong, tiba-tiba meledaklah krisis keuangan dan ekonomi global. Berasal dari negara industri maju, bahkan induknya, yakni Amerika Serikat, serentak bergerak sebagai gelombang pasang ke seluruh dunia,
tidak terkecuali, kita, Indonesia. Ekspor bahan andalan, seperti batu bara dan minyak sawit, merosot harganya. Negara-negara industri maju menghentikan sejumlah barang impor, termasuk dari Indonesia.
Akibatnya segera kit alami. Perusahaan tersendat atau tutup. Karyawan pun mulai dikurangi. Pengangguran terjadi. Kehidupan rakyat banyak bertambah sulit. Kita saksikun sekaligus kita rasakan. Keprihatinan pun berkembang
dan bergejolak dalam hati. Gejolak hati yang prihatin itu beruntunglah kita sertai kesadaran dan pengertian akan rasa tanggung jawab agar kondisi tidak bertambah buruk. Pemerintah bertanggung jawab berikut para pemimpin masyarakat,
dunia usaha, dan kita bersama sesuai posi masing-masing.

Sumber:Kompas, 30 Desember 2008

Desember 18, 2008

DOKUMENTASI SEBAGAI SUMBER INFORMASI DAN INSPIRASI

Diarsipkan di bawah: Uncategorized — arsiparis @ 12:51 am

Pameran dokumentasi dalam rangka Dies Natalis UGM ke 59 digelar di gedung University Club UGM selama tiga hari berturut-turut, yaitu mulai tanggal 15 Desember hingga 17 Desember 2008. Pameran ini mengusung tema Peran UGM dalam Masa Perjuangan (1949-1964). Tak seperti pameran dokumentasi yang digelar sebelumnya (Dies Natalis UGM ke 58) yang terkesan kurang begitu menarik dan sepi pengunjung, sepi peserta dan minim infrastruktur, pameran pada dies kali ini tampak dibuat semenarik mungkin dan semewah mungkin. Tak ketinggalan pula, informasi dari berbagai dokumen yang dipamerkan semakin dilengkapi dengan pamphlet ataupun brosur serta penjelasan langsung dari pihak mahasiswa sehingga menambah lengkapnya informasi yang hendak disampaikan dari dokumen-dokumen tersebut.

Meski dalam beberapa hal masih terdapat kekurangan, seperti penataan ruang yang agak membingungkan penulis ketika memasuki ruang pameran karena minimnya marchendise (baca:penunjuk arah) pameran, tata letak dokumentasi dan arsip bentuk khusus yang terkesan masih kurang sistematis, pameran dokumentasi kali ini memberikan banyak inspirasi dan informasi berharga bagi penulis. Penataan furniture dalam frame (baca:subruang pameran) tiap fakultas seakan membawa penulis beranjak dari masa ke masa fakultas tersebut ada dalam naungan UGM. Dokumentasi dari beberapa penelitian yang juga dihadirkan dalam pameran menginformasikan kepada penulis bahwa UGM sebagai universitas riset berstandar internasional memang tak diragukan lagi. Karya-karya emas yang lahir dari tangan-tangan dingin intelektual muda telah membawa UGM menjadi salah satu kebanggaan kota Yogyakarta, dan Indonesia tentunya. Profil-profil tokoh dan beberapa kegiatan universitas pada masa revolusi fisik hingga mendekati tahun yang paling bersejarah bagi pergerakan mahasiswa (1964) memberikan inspirasi akan ketekunan, kegigihan dan kecintaan pada tanah air sendiri, pada keberagaman budaya yang terdokumentasi pada beberapa khasanah arsip milik Arsip Universitas, yaitu pementasan beragam budaya Indonesia pada acara Dies Natalies UGM.

Ada satu kalimat yang membangkitkan kembali semangat Soekarno dalam hati penulis tentang pandangan beliau terhadap ilmu, yang sempat terpapar dalam salah satu dokumentasi milik Arsip Universitas, yaitu:Ilmu adalah yang diamalkan, janganlah ilmu yang disterilkan. Kalimat ini menjadi semakin absurd jika ditabrakkan dengan realita dunia kampus sekarang ini, kalau kita, sebagai civitas akademika, mau berkaca lebih deskriptif lagi.

Banyak hal yang ternyata dapat diperoleh dari sebuah pameran dokumentasi. Tak sekedar informasi mengenai riwayat fisik suatu atau beberapa dokumen, namun apa yang mampu kita telaah lebih dalam dari informasi yang tersirat, serta inspirasi atau hikmah apa yang dapat kita petik dari dokumentasi-dokumentasi tersebut.

Tulisan yang Lebih Tua »

Blog pada WordPress.com.