Pameran dokumentasi dalam rangka Dies Natalis UGM ke 59 digelar di gedung University Club UGM selama tiga hari berturut-turut, yaitu mulai tanggal 15 Desember hingga 17 Desember 2008. Pameran ini mengusung tema Peran UGM dalam Masa Perjuangan (1949-1964). Tak seperti pameran dokumentasi yang digelar sebelumnya (Dies Natalis UGM ke 58) yang terkesan kurang begitu menarik dan sepi pengunjung, sepi peserta dan minim infrastruktur, pameran pada dies kali ini tampak dibuat semenarik mungkin dan semewah mungkin. Tak ketinggalan pula, informasi dari berbagai dokumen yang dipamerkan semakin dilengkapi dengan pamphlet ataupun brosur serta penjelasan langsung dari pihak mahasiswa sehingga menambah lengkapnya informasi yang hendak disampaikan dari dokumen-dokumen tersebut.
Meski dalam beberapa hal masih terdapat kekurangan, seperti penataan ruang yang agak membingungkan penulis ketika memasuki ruang pameran karena minimnya marchendise (baca:penunjuk arah) pameran, tata letak dokumentasi dan arsip bentuk khusus yang terkesan masih kurang sistematis, pameran dokumentasi kali ini memberikan banyak inspirasi dan informasi berharga bagi penulis. Penataan furniture dalam frame (baca:subruang pameran) tiap fakultas seakan membawa penulis beranjak dari masa ke masa fakultas tersebut ada dalam naungan UGM. Dokumentasi dari beberapa penelitian yang juga dihadirkan dalam pameran menginformasikan kepada penulis bahwa UGM sebagai universitas riset berstandar internasional memang tak diragukan lagi. Karya-karya emas yang lahir dari tangan-tangan dingin intelektual muda telah membawa UGM menjadi salah satu kebanggaan kota Yogyakarta, dan Indonesia tentunya. Profil-profil tokoh dan beberapa kegiatan universitas pada masa revolusi fisik hingga mendekati tahun yang paling bersejarah bagi pergerakan mahasiswa (1964) memberikan inspirasi akan ketekunan, kegigihan dan kecintaan pada tanah air sendiri, pada keberagaman budaya yang terdokumentasi pada beberapa khasanah arsip milik Arsip Universitas, yaitu pementasan beragam budaya Indonesia pada acara Dies Natalies UGM.
Ada satu kalimat yang membangkitkan kembali semangat Soekarno dalam hati penulis tentang pandangan beliau terhadap ilmu, yang sempat terpapar dalam salah satu dokumentasi milik Arsip Universitas, yaitu:Ilmu adalah yang diamalkan, janganlah ilmu yang disterilkan. Kalimat ini menjadi semakin absurd jika ditabrakkan dengan realita dunia kampus sekarang ini, kalau kita, sebagai civitas akademika, mau berkaca lebih deskriptif lagi.
Banyak hal yang ternyata dapat diperoleh dari sebuah pameran dokumentasi. Tak sekedar informasi mengenai riwayat fisik suatu atau beberapa dokumen, namun apa yang mampu kita telaah lebih dalam dari informasi yang tersirat, serta inspirasi atau hikmah apa yang dapat kita petik dari dokumentasi-dokumentasi tersebut.