Serangan Israel ke wilayah Jalur Gaza dilancarkan selama akhir pekan kemarin, dan dilaporkan telah menewaskan sekitar 300 warga Palestina.
Serangan itu menurut Israel dilancarkan karena Hamas yang menguasai Gaza terus menembakkan roket ke wilayah Israel. Meski telah menelan banyak korban,
serangan yang menggunakan pesawat tempur itu kemungkinan besar belum akan diakhiri. Pemerintah Israel telah memanggil pasukan
cadangan yang diduga untuk persiapan melakukan operasi darat.
Sejumlah kalangan menilai serangan Israel tampaknya untuk menegaskan kepada pihak lawan bahwa ia bukan negara lemah
seperti dikesankan saat kedodoran menghadapi serangan Hezbollah tahun 2006. Kali ini serangan dilakukan dengan masif. Selain banyak korban yang jatuh,
serangan menimbulkan kekalutan luar biasa. Banyak warga Gaza yang berniat mengungsi ke wilayah Mesir melalui perbatasan Rafah. Namun, pihak Mesir tegas
menutup perbatasan tersebut.
Negara-negara Arab meluapkan kemarahan terhadap serangan brutal Israel. Sebagian dari mereka juga marah terhadap Mesiryang tak
memberikan kesempatan kepada warga Palestina yang ingin mengungsi. Padahal, kemampuan Gaza, seperti dalam hal pengobatan, sudah
amat merosot setelah 18 bulan terkena sanksi Israel.
Semua itu menimbulkan kecemasan, wilayah Timur Tengah akan kembali terjerumus ke dalam ketidakstabilan baru. Pihak Israel menyebutkan,
serangan tidak dimaksudkan menduduki Gaza, yang sudah ia tinggalkan secara sepihak tahun 2005, tetapi untuk memulihkan kehidupan normal
bagi penduduk di wilayah selatan negara yang terkena serangan roket Hamas.
Namun, pihak Hamas menyebut Israel-lah yang memulai “perang”, dan bertekad akan membalas dengan serangan hingga “jauh ke dalam
wilayah negara zionis dengan menggunakan semua cara, termasuk serangan bunuh diri”. Sementara itu, di Lebanon, pemimpin Hezbollah Sheik Hassan Nasrallah menyatakan
mendukung Hamas dan mempersiapkan para pejuangnya.
Dukungan bagi Hamas juga muncul dari Iran dan Suriah. Kedua negara ini dianggap berseberangan dengan Arab Saudi,
Jordani dan Mesir, yang dinilai menjalin kesepakatan menentang Hamas. Kini, gencatan senjata selama enam bulan antara Israel dan Hamas
yang diperantarai Mesir sudah berakhir 10 hari yang lalu. Namun, situasi sudah mulai memburuk November lalu.
Kita sungguh prihatin dengan kondisi di Palestina. Jangankan ada negara merdeka, tahun 2008 pun berakhir dengan Palestina
yang masih terus terbelah dan berdarah oleh gempuran Israel.
Sumber:Kompas, 30 Desember 2008