Kejadian dan perubahan apakah yang mencolok tahun 2008?Semakin nyatanya perubahan iklim. Tercatat banjir yang semakin liar dan ganas. Juga bencana tanah longsorĀ dan gelombang laut. Bukan saja mengakibatkan
kerusakan alam dan harta benda, tetapi juga korban jiwa dan penduduk terusir dri tempat tinggalnya. Karena berbagai hal, perubahan iklim akibat pemanasan global, dan bencana alam bagi masyarakat Indonesia, masih kuat dan efektif
faktor-faktor pendadakannya. Pemahaman, perencanaan dan pencegahan masih harus kita buat lebih efektif.
Tahun 2008 disibukkan pula oleh persiapan pemilihan umum tingkat nasional tahun 2009. Sementara itu, pada tingkat provinsi, kabupaten dan kota, pemilihan berlangsung sepanjang tahun. Tahun 2008 terhitung ada 139 kali
pemilu lokal di seluruh Indonesia. Secara iseng, tetapi serius, kita semakin sering berolok, kalau pemilu begitu sering disertai dengan segala macam implikasinya, kapan kita bekerja?Demokrasi memang mahal, maka haruslah kita pandai-pandai
membangun dan merawatnya untuk sebesar-besarnya kemakmuran yang berkeadilan bagi seluruh warga.
Meninggalkan tahun 2008 berarti melangkah masuk ke tahun pelaksanaan pemilu nasional, dimulai dengan pemilu anggota legislatif dan dilanjutkan dengan pemilihan presiden dan wakil presiden. Bisa kita bayangkan kesibukan dan
ketegangannya silih berganti. Masuk akallah semua itu karena demokrasi yang dilaksanakan lewat pemilu disertai kompetisi. Kompetisi antar partai yang notabene 40 lebih jumlahnya dan puncaknya kompetisi antara para capres dan cawapres.
Semua kegiatan itu memerlukan persiapan serta pemahaman dan kesadaran yang semakin bertanggung jawab perihal prinsip, semangat serta kebajikan demokrasi. Komisi Pemilihan Umum berposisi sebagai penyelenggara,
masuk akal jika kesiapan kerja yang efektif dan efisien dari badan itu memperoleh sorotan kritis-konstruktif di samping dukungan dan partisipasi.
Seperti petir di siang bolong, tiba-tiba meledaklah krisis keuangan dan ekonomi global. Berasal dari negara industri maju, bahkan induknya, yakni Amerika Serikat, serentak bergerak sebagai gelombang pasang ke seluruh dunia,
tidak terkecuali, kita, Indonesia. Ekspor bahan andalan, seperti batu bara dan minyak sawit, merosot harganya. Negara-negara industri maju menghentikan sejumlah barang impor, termasuk dari Indonesia.
Akibatnya segera kit alami. Perusahaan tersendat atau tutup. Karyawan pun mulai dikurangi. Pengangguran terjadi. Kehidupan rakyat banyak bertambah sulit. Kita saksikun sekaligus kita rasakan. Keprihatinan pun berkembang
dan bergejolak dalam hati. Gejolak hati yang prihatin itu beruntunglah kita sertai kesadaran dan pengertian akan rasa tanggung jawab agar kondisi tidak bertambah buruk. Pemerintah bertanggung jawab berikut para pemimpin masyarakat,
dunia usaha, dan kita bersama sesuai posi masing-masing.
Sumber:Kompas, 30 Desember 2008